Torosiaje, Perpaduan Eksotisme Alam dan Manusia

POHUWATO - Desa Torosiaje merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Sebelum Era Otonomi  wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Gorontalo. Pada tahun 1999 Kabupaten Gorontalo dimekarkan menjadi 2 Kabupaten dan Desa Torosiaje menjadi bagian dari Wilayah Kabupaten Bualemo. Perkembangan selanjutnya yaitu pada tahun 2004 Kabupaten Bualemo di mekarkan kembali dan Desa Torosiaje menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Pohuwato. Dinamika perubahan administrasi wilayah ini juga memiliki pengaruh terhadap Desa Torosiaje itu sendiri. Sejak awal terbentuknya Desa Torosiaje memiliki dua wilayah yang dihuni oleh mayoritas masyarakat Bajo yakni wilayah dataran yang berada di pantai dan wilayah perairan yang berada di laut. Namun mulai tahun 2005 Desa Torosiaje terbagi menjadi 2 wilayah administrasi yakni Desa Torosiaje Jaya yang terletak di dataran dan Desa Torosiaje yang terletak di perairan (Laut). Sedangkan Desa Torosiaje terdiri dari 2 dusun yaitu Dusun Mutiara dan Dusun Bahari Jaya. Kedua dusun ini dibatasi oleh sebuah jembatan sebagai pintu masuk dan keluar Desa Torosiaje.  Menilik peta wilayah Provinsi Gorontalo, Desa Torosiaje merupakan sebuah desa yang letaknya berada di sebuah tanjung (bagian pantai atau daratan yang menjorok ke laut). Di sisi kanan dan kiri diapit oleh dua buah sungai yaitu sungai Popayato dan sungai Dudeulo. Di depan wilayah ini juga terdapat dua buah pulau yaitu pulau iloluta dan pulau ilosangi, namun masyarakat Bajo hanya menamakan pulau besar dan pulau kecil.  Luas Wilayah Desa Torosiaje memiliki Wilayah antara lain,  Dibagian utara, timur dan barat berbatasan dengan Desa Popayato, Pada bagian barat berbatasan dengan desa Dudeuwo dan Teluk Lepa -lepoa dan sebelah selatan berbatasan dengan laut atau Teluk Tomini. Sejauh ± 1 km di sebelah utara dari perbatasan Desa Torosiaje membentang jalur jalan Trans Sulawesi Tengah dengan Provinsi Gorontalo.

Jalur jalan yang telah beraspal serta kondisinya cukup baik itu sangat mempermudah hubungan antara Ibukota Kecamatan Popayato dengan Desa Torosiaje yang jaraknya 7 km yang dapat ditempuh selama ± 20 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Begitu pula dengan Ibu Kota Kabupaten Pohuwato yang jaraknya 72 km dari Desa Torosiaje. Perjalanan lewat jalan darat ini dapat ditempuh dengan waktu ± 2 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor atau mobil.  Secara geografis Desa Torosiaje berada pada perairan laut dangkal dengan kedalaman 0.5-2 meter. Namun demikian diwilayah pantai, tercatat bahwa ketinggian tempat berada pada ± 3 meter dari permukaan air laut. Iklim dan konsisi geografis yang demikian menyebabkan suhu rata-rata harian tercatat sebesar 32 derajat celcius.

Desa Torosiaje sendiri didirikan pada tahun 1901. Pendirinya bernama Pata Sompa. Ia seorang haji.Dulu, orang-orang yang berlalu lalang naik perahu bilang, bahwa mereka ingin mampir ke toro siaje atau tanjung si Haji. Maka, jadilah nama desa Suku Bajo itu Torosiaje. Menurut cerita, si Haji merupakan orang pertama yang mendiami wilayah tersebut. pada awalnya baru ada empat unit rumah panggung milik suku Bajo yang berdiri diperairan setempat, sementara warga lainnya masih tinggal diatas rumah perahu dan berpindah-pindah.

Sekitar tahun 1960-an, kepala desa setempat yang disebut "Punggawa" memerintahkan warga yang masih tinggal di perahu untuk membangun rumah dan menetap di kawasan perairan tersebut.
Suku Bajo memang dikenal sebagai petualang, suka berpindah-pindah dengan rumah perahunya. Hingga saat ini orang-orang tua mempercayai perairan ini auranya jernih, artinya nyaman dan aman untuk ditinggali anak cucu.

Warga Torosiaje pernah mencoba hidup di darat. Pada tahun 1980 Dinas Sosial memindahkan 125 keluarga ke daratan yang kini dikenal dengan nama Desa Torosiaje Jaya dan memberi mereka lahan. Namun karena kesulitan melakoni pekerjaan baru sebagian warga kemudian memutuskan kembali ke perkampungan di atas laut dan setia menjadi nelayan. saat ini Torosiaje tak hanya dihuni oleh Suku Bajo, tetapi juga suku lainnya seperti Gorontalo, Bugis, Mandar, Buton, Minahasa, Jawa, dan Madura yang mayoritas beragama Islam.

Penduduk Torosiaje Laut berjumlah sekitar 1200 orang. Di sana, ada sekitar 245 rumah. Desa itu panjangnya 2 kilometer dan lebarnya 1 kilometer. Seluruh desa itu terangkai menjadi satu dengan jembatan-jembatan yang saling menyambung.

Torosiaje Laut seperti desa-desa di darat. Bentuk rumah masyarakat setempatpun sama seperti bentuk rumah di darat. Di sana juga sudah ada listrik, sekolah, toko-toko kecil, penginapan dengan toilet duduk, dan bahkan panel surya. Penduduknya pun sudah biasa memakai telepon genggam. Meski keadaannya mirip desa di darat. Saat memperhatikan masyarakatnya beraktifitas, memandangi lautan yang terbentang di depan rumah-rumah warga, menapaki jembatan-jembatan yang terbuat dari kayu, semakin membuat suasana berbeda.(alan)